Jumat, 05 Maret 2010

Kebudayaan Nyadran di Indonesia

Pengertian Nyadran

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan-bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau Ruwah.

Nyadran dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dengan ritus dengan objeknya. Perbedaannnya hanya terletak pada pelaksanaannya, dimana nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif. Hal senada juga diungkapkan oleh Mbah Pus, 72 tahun, seorang sesepuh yang berasal dari desa Barepan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Beliau mengatakan, didalam melakukan tradisi nyadran waktunya ditentukan oleh pihak-pihak yang bekeinginan untuk melaksanakan ritual nyadran. Beliau menyebut pihak-pihak tersebut dengan ‘paguyuban’.

Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan dengan nilai-nilai Islam, sehingga tampak adanya lokalitas yang masih kental dengan nuansa Islami.

Dijelaskan oleh Mbah Pus bahwa nyadran menurut agama Islam yang diutamakan adalah membaca Qur’an lalu berdoa memohonkan ampun untuk para leluhur mereka. Tetapi bila dilihat dari sudut pandang kebudayaan Jawa, nyadran berarti meminta sodaqoh dan meminta rizki dari Tuhan melalui kegiatan kenduri. Masyarakat percaya bila mereka telah mengeluarkan sodaqoh, Tuhan akan memberikan ‘hadiah’ yang setimpal. Lalu ‘hadiah’ tersebut mereka kirimkan kepada para leluhurnya agar dosa-dosanya diampuni oleh Tuhan Yang Maha Esa dan diberi tempat yang layak disisi-Nya.

Awal mula Tradisi Nyadran
Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian tidak mengherankan jika pelaksanaan tradisi nyadran masih kental dengan budaya Hindu-Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Songo.
Hal ini dijelaskan pula oleh Mbah Pus. Kebudayaan nyadran berawal pada masa Wali Songo. Tradisi nyadran ini diperkenalkan oleh seorang wali yang bernama Sunan Kalijaga. Beliau memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat melalui bidang-bidang kesenian, seperti grebek dan Maulid Nabi. Dulu untuk menarik perhatian masyarakat untuk melakukan tradisi nyadran menggunakan kegiatan mengaji bersama. Kegiatan mengaji ini memakan waktu yang lama. Masyarakatpun membawa makanan sendiri dari rumah agar dapat dimakan saat acara berlangsung atau dibagikan kepada sanak saudara. Bila mereka sudah kelelahan untuk mengaji, maka mereka pun menyantap hidangan yang telah mereka bawa dari rumah. Suasana ceria pun segera tercipta manakala mereka menyantap berbagai makanan tersebut. Canda tawa dan gurauan antar wargapun terlukiskan disana.

“Apabila tradisi nyadran ini dperkenalkan dengan menggunakan cara yang ‘formal’ seperti ceramah, maka bagi masyarakat awam tentu hal ini sulit untuk dipahami.” Ujar Mbah Pus.

Pelaksanaan Budaya Nyadran Hingga Dewasa Ini
Prosesi ritual nyadran biasanya dimulai dengan membuat makanan yang sering dinamakan ketan, kolak, apem. Campuran tiga jenis makanan tersebut dimasukkan dalam takir, yaitu tempat makanan yang terbuat dari daun pisang, di ujungnya ditusuki biting (lidi). Kue-kue tersebut selain dipakai untuk mujung/ ater-ater (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapat bagian dari kue-kue tadi. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

Ritual nyadran dimulai dengan kegiatan membersihkan makam leluhur. Selesai melakukan pembersihan makam, masyrakat menggelar kenduri yang berlokasi disepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga). Kenduri dimulai setelah terdengar bunyi ketongan yang ditabuh dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Kemudian seluruh keluarga, anak-anak kecil serta remaja menghadiri ritual nyadran ini.

Tiap-tiap keluarga biasanya membawa makanan sekedarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, Pak RT membuka acara yang isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama lokal) maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf atas dosa leluhur atau mereka pribadi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Doanya menggunakan tata cara Islam, semua warga mengamininya. Selesai berdoa, semua yang hadir mencicipi makanan yang telah tersedia.

Biasanya, tradisi nyadran mengunakan ‘nasi gurih’. Ini mengandung arti bahwa kegiatan ini ditujukan pula untuk Rasulullah SAW. ‘nasi gurih’ ini kegunaannya antara lain untuk mengkhatami pengajian yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat. Tujuannya yaitu agar setiap permintaan atau permohonan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dari tata cara tersebut di atas, jelas bahwa tradisi nyadran tidak sekedar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotong royong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi. Bahkan setelah nyadran, ada warga yang mengajak saudaranya di desa untuk ikut merantau dan bekerja di kota.
Mbah Pus menuturkan, pelaksanaan nyadran ini tidak ditentukan harinya. Tetapi biasanya tradisi ini dilakukan pada hari Jum’at pertama bulan Sya’ban. Ada juga yang melaksanakan tradisi nyadran ini pada tanggal 15 di bulan Sya’ban atau Ruwah. Kalau di Makam Sewu, tradisi nyadran dilaksanakan tanggal 25 dan sering diikuti oleh banyak orang. Jadi, hari untuk melaksanakan tradisi nyadran tidak ditentukan oleh agama, tetapi menurut kesepakatan antar warga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar